Rabu, 09 Juli 2014

Balikpapan, Small City with many Culture

Pandan Sari China Town Versi Balikpapan 

Ketika semua orang membicarakan tentang kota Balikpapan pasti semua orang ingin bercerita tentang kawasan pengolahan minyak dan sejumlah perusahaan jasa di bidang minyak dan gas bahkan tambang batu bara yang menjamur dan menjadi daya tarik para pendatang yang ingin mengadu nasib di kota kecil ini.

Namun kali ini saya ingin bercerita tentang budaya yang tumbuh dan berkembang di kota Minyak yang memiliki penduduk yang saat ini telah mencapai lebih dari lima ratus ribu jiwa. Bicara tentang budaya atau nilai keseharian masyarakat Balikpapan hanya dapat terlihat melalui gaya hidup yang konsumtif.

Dimana sebuah kompetisi bukan hal yang berarti bagi generasi kedua yang lahir dan besar di kota Balikpapan mengingat pendapatan penduduk pertahun di kota ini yang relatif tinggi ditunjang dengan rendahnya tingkat kesenjangan sosial akibat perekonomian yang cukup kondusif hingga saat ini, percaya atau tidak orang yang tidak memiliki pekerjaanpun sanggup memberi handphone keluaran terbaru!

Bagaimana itu bisa terjadi? Karena sebagian besar dari mereka masih termasuk dalam daftar penerima subsidi dari orang tua mereka yang memiliki penghasilan yang tinggi, hal tersebut membuat pilihan baru yang cukup menarik untuk mereka pemuda dan pemuda usia produktif untuk tidak pergi bekerja dengan penghasilan kecil jika dibandingkan dengan ‘jatah’ yang diberikan oleh orang tua mereka.

Di sisi lain, heterogenitas suku ras dan agama di kota Balikpapan menjadikan kota ini tidak memiliki akar budaya yang jelas, bahkan ketika sejumlah budayawan merumuskan apa yang mendasari lahirnya kebudayaan di kota ini pun tidak bisa mewakili apa yang tergambar secara luas dan menyeluruh mengenai ciri khas kota Balikpapan. Karena ciri dari Balikpapan sendiri sebenarnya adalah keberagamannya.

Kembali merekam ingatan tentang apa dan bagaimana kota Balikpapan pada jaman dahulu, kita selalu disajikan dengan megahnya instrumen pengolahan yang terletak di Jalan Minyak, dan tidak henti-hentinya pula ingatan kita diarahkan pada peninggalan sejarah arsitektur Belanda jika kita memasuki kawasan perumahan komplek Pertamina.

Jika kita lebih membuka mata untuk melihat awal perkembangan budaya di kota Balikpapan dapat juga diawali pada sebuah kawasan khas pecinan yang berlokasi di Pasar Tradisional Pandansari.

Terdapat sejumlah nilai sejarah yang menambah khasanah budaya masyarakat Balikpapan. Kaum pendatang yang berasal dari Negeri Cina tersebut sedikit banyak memberi pengaruh besar terhadap kedaulatan dan juga perdagangan di kota Balikpapan.

Berbicara tentang budaya kota Balikpapan bukan hanya membicarakan tentang suku asli kalimantan yaitu Dayak dan Kutai. Secara historis memang Kalimantan Timur adalah bagian dari Pulau Kalimantan yang terkenal dengan ‘orang dayak’ dan kerajaan Kutai. Namun lebih spesifik sebenarnya masyarakat Balikpapan hanya "meminjam" sebagian lahan dari suku dayak yang dijadikan sebagai bandar perdagangan karena lokasi yang sangat strategis untuk menunjang aktivitas tersebut.

Padahal jika pemerintah kota Balikpapan mau menghargai nilai sejarah, kawasan tersebut kaya akan budaya leluhur kota Balikpapan sangat memungkinkan apabila konsep tersebut bisa terwujud kampoeng Batavia di Ibukota yang saat ini kembali dilestarikan.

Karena awal peradaban sosial masyarakat Balikpapan didominasi oleh masyarakat pesisir yang menopang perdagangan Kota Minyak ini selanjutnya.

Kaum pendatang yang mulai berdatangan sejak abad ke-19 tersebut telah membentuk koloni yang khas dan tidak memiliki icon tertentu untuk dijadikan simbol dominan karena keragaman suku dan ras merupakan perbandingan yang seimbang. Nilai budaya yang tidak membebani itu menjadikan masyarakat Balikpapan memiliki bentuk toleransi yang tinggi dengan alasan yang kuat yakni sama-sama mencari ‘makan’ di kawasan ini.

Menurut sebagian masyarakat Balikpapan yang pernah hidup di kota ini, kawasan Pandan Sari tersebut dahulu merupakan bandar perdagangan sekaligus tempat mereka berkumpul untuk membantu perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengusir tentara Jepang yang saat itu menjadi urusan sekutu untuk mengusir mereka dari negeri tercinta ini.

Kisah tersebut diceritakan secara turun temurun dalam keluargaku yang sudah menetap dua generasi di kota ini. Ungkapan ibuku yang di sadur langsung dari kakekku menegaskan, orang-orang china zaman dulu sering membantu para tentara Indonesia untuk memberikan bekal persediaaan makanan dan beberapa informasi penting mengenai kekuatan Jepang pada saat itu. Beberapa diantara mereka melindungi tentara Indonesia yang menjadi buronan Jepang bahkan beberapa warga pecinan juga ikut berjuang melawan sekutu.

Saat ini masih terdapat warga pecinan tua kota Balikpapan yang merupakan sisa generasi tersebut bisa dijumpai di kawasan warung kopi yang berada dilokasi tersebut. Di salah satu sudut komplek pertokoan Pandan Sari yang menyajikan sarapan pagi berupa nasi kuning dan lontong sayur serta racikan kopi susu yang khas serta aneka jajanan roti yang lezat berkumpul di pagi hari.

Bahkan ada yang menyajikan menu khusus berupa cak kwe dan juga mantau roti padat biasanya disajikan dengan olahan daging payau lada hitam alias menjangan…ummm..nikmat.

Kecamatan Balikpapan Barat salah satu diantara lima kecamatan yang ada di kota Balikpapan banyak menyimpan kekayaan budaya baik tradisi lokal masyarakat atau kekayaan alamnya. Disana terdapat kawasan pemukiman atas air, gedung-gedung tua dan pendudukan Pecinan, pusat penjualan souvenir, dan pelabuhan penyebrangan antar pulau dan dan tentu saja kawasan hutan bakau yang luas terdapat disana.

  • sumber  

    5 Kuliner Unik Oleh-oleh dari Balikpapan

    Balikpapan merupakan sebuah kota kecil di Propinsi Kalimantan Timur. Namun meskipun hanya sebagai kota kecil, Balikpapan merupakan pintu gerbang propinsi Kalimantan Timur. Perkembangan kota Balikpapan yang pesat bak magnet bagi pendatang dari berbagai daerah. Tak heran jika akhirnya terjadi kulturasi berbagai budaya dan suku bangsa di sini. Akibatnya justru semakin memperkaya khasanah budaya kita, termasuk dalam hal kuliner. Jika suatu saat nanti anda berkesempatan ke Balikpapan, pasti anda akan berfikir oleh-oleh apa yang khas dari Balikpapan selain batu permata, lampit, atau mandau khas Dayak?  Jangan khawatir, Balikpapan juga memiliki makanan unik dan khas yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk sahabat, keluarga atau handai tolan kita? Jika suatu saat nanti anda berkunjung ke Balikpapan, berikut  kuliner yang bisa anda pertimbangkan untuk dijadikan buah tangan yang mengesankan :

    1. Aneka Olahan Kepiting
    Kepiting Lada Hitam

    Sudah menjadi rahasia umum jika Balikpapan merupakan salah satu daerah penghasil kepiting bakau (Scylla serrata) terbaik di Indonesia. Berbagai aneka olahan kepiting bakau (atau biasa disebut kepiting Soka) yang lezat bisa anda dapatkan dibeberapa restoran yang ada di Jalan Marsma Iswahyudi Gunung Bakaran (tak jauh dari Bandara Sepinggan). Menu kepiting lada hitam, kepiting saos special, kepiting saus tiram, kepiting tauco, hingga kepiting goreng mentega ada disini. Namun dari sekian banyak menu, kepiting lada hitam dan kepiting saos special menjadi yang terdepan. Kepiting Soka yang gemuk dan banyak dagingnya memang akan semakin nikmat dengan bumbu saus dan lada hitam yang pedas. Untuk dijadikan oleh-oleh,  makanan ini juga sudah dikemas sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi cita rasanya, aman, dan trendy sehingga tak perlu malu walau harus menentengnya. Sampai dirumah anda tinggal memanaskannya di microwave dan siap dihidangkan. Olahan lain yang lebih awet dan tahan dalam jangka waktu yang lebih lama yakni berupa abon kepiting yang banyak dijual dibeberapa minimarket ataupun toko-toko penjual oleh-oleh khas Balikpapan. Sedikitnya ada 2 farian abon kepiting yang dijual di pasaran, yakni original dan rasa bumbu.
    1391579961482726749
    Aneka Olahan Kepiting dalam kemasan (dok. pribadi)

    13915800331627221686
    Sampai rumah dipanaskan di microwave dan siap dihidangkan (dok. pribadi)
    1391580101550259523
    Abon kepiting, praktis dan tahan lama (dok. pribadi)
    2. Bingka
    13915801861328061371
    Berbagai farian bingka (dok. pribadi)


    Bingka merupakan salah satu kuliner khas Balikpapan. Makanan berbahan dasar kentang ini meskipun tidak tahan lama, namun bisa dijadikan oleh-oleh yang tak kalah mengesankan. Padu padan kentang, telor, mentega, gula, susu, dan santan akan menciptakan citarasa yang gurih, manis dan lezat. Dewasa ini bingka sudah memiliki berbagai farian seperti bingka kentang kombinasi pisang, keju, gula merah, bahkan bingka dari labu merahpun ada. Anda bisa membeli bingka kentang ini di dekat pelabuhan Semayang ataupun di Stal Kuda. Kedua tempat ini konon merupakan pembuat bingka paling enak di Balikpapan.

    3. Amplang
    1391580230784075235
    Amplang gurih nan kriuk (dok. pribadi)
    Amplang merupakan makanan ringan semacam kerupuk. Bahan utamanya terdiri dari tepung, telor,  beragam bumbu rempah, dan daging ikan pipih (atau sering disebut belida). Ikan pipih sendiri merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang dulu banyak terdapat diperairan Kalimantan. Namun keberadaan ikan ini sudah jarang kita temui hingga dewasa ini, pembuat amplang menggantinya dengan daging ikan tengiri. Sekarang Ikan pipih atau belida sendiri hanya dipakai sebagai merk saja. Campuran dari beragam bumbu rempah, tepung, telor dan daging ikan membuat camilan ini terasa gurih dan kriuk. Bentuknya bermacam-macam, ada yang bulat memanjang seperti jari, ada juga yang menyerupai kuku macan. Semua sama gurihnya. Pembuatan amplang sendiri selain di Balikpapan juga banyak terdapat di Samarinda. Anda bisa mendapatkan amplang yang gurih ini dibeberapa toko penjual oleh-oleh khas Balikpapan yang banyak terdapat di sepanjang jalan A. Yani Balikpapan.

    4. Bakpia
    1391580291595703529
    Bakpia asli Balikpapan (dok. pribadi)
    Selama ini kita pasti hanya mengenal Bakpia atau pia sebagai makanan khas Jogja atau yang sering kita dengar dengan sebutan bakpia pathuk. Tapi jangan salah, Balikpapan juga memiliki bakpia lho. Berbeda dengan bakpia pathuk yang kecil-kecil, bakpia Balikpapan memiliki ukuran yang lebih besar. Kuliner yang terbuat dari kacang hijau dan gula yang dibungkus dengan tepung dan dipanggang ini memang cocok untuk dijadikan buah tangan. Bakpia Balikpapan memiliki tekstur yang renyah bak biskuit. Tekstur ini pulalah yang membedakan bakpia Balikpapan dengan bakpia dari daerah lain. Sekali gigit, maka akan terhamburlah rasa gurih dan asin dilidah anda yang akan disambung dengan rasa manis dari kacang hijau atau coklat sebagai isinya. Bakpia di Balikpapan berisi kacang hijau, coklat, dan keju. Anda bisa memperolehnya di sebuah depot yang sangat terkenal di Jalan A. Yani Balikpapan. Anda bisa menikmati bakpia yang hangat dan lezat disana.
    13915803671333351982
    Bakpia hangat dan lezat (dok. pribadi)

    5. Mantau
    13915804291327121664
    Mantau Balikpapan nan lezat (dok. pribadi)
    Mantau atau roti span memang merupakan kuliner khas etnis tionghoa yang banyak terdapat dibeberapa daerah di Indonesia. Namun berkat kulturasi yang terjadi di Balikpapan memunculkan kuliner berupa mantau yang unik dan khas serta berbeda dari daerah lain. Roti kukus sebesar kepalan tangan yang biasanya disajikan setelah digoreng ini, di Balikpapan disajikan bersama daging rusa yang diolah dengan bumbu lada hitam (rusa lada hitam). Ini yang membuat mantau Balikpapan menjadi khas dan berbeda. Daging rusa yang bertekstur sedikit lembut dan agak manis ini akan semakin lezat dengan padu padan lada hitam yang pedas. Taburan kacang mete sangrai yang gurih seolah semakin menambah kelezatan kuliner ini. Namun dewasa ini daging rusa sudah sulit didapatkan (karena rusa menjadi salah satu hewan yang dilindungi), sehingga banyak digantikan dengan daging sapi atau ayam. Jika anda penasaran dan ingin mencicipi kelezatan mantau dengan sapi lada hitam atau ayam lada hitam, cobalah anda datang kesebuah depot di Simpang Kilat Jalan Letjen Suprapto Balikpapan.

    Mantau atau roti span Balikpapan (dok. pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar